Tapak-Tapak Kaki Gunung Gede

Bukan tentang indahnya pemandangan GunuIMG_0310ng Gede, bukan pula tentang Sunrise di pagi hari yang tidak sempat ku kejar pagi hari itu…

****

Langkah-langkah ramai di pagi hari yang ceria mulai hilang ditelan bisu karena jalur Gunung Putri yang belum pernah dijejaki sebelumnya. Aku, dia dan mereka mulai merasakan lelah. Riang yang muncul lambat laun sirna. Entah apa yang ada dipikiran dia dan mereka. Namun, padaku, aku tak pernah merasakan pendakian yang teramat menyenangkan seperti hari itu pada tanggal 13-14 Sept 2014.

Walau beban dipundakku adalah beban terberat sepanjang aku mendaki, tapi merasa sangat puas ketika dia dan mereka dengan kekuatan-kekuatan yang tersisa mampu menyuruh kaki-kaki mereka untuk melangkah. Ya, melangkah, setidaknya sampai kepada padang Edelwis Surya Kencana. Langkah-langkahku, aku jejakkan sedikit demi sedikit. Kupaksakan kakiku agar tak terlalu banyak berhenti, agar bisa cepat datang pada padang itu. Ada haru ketika melihat dia dan mereka sampai pada sebagian puncak kepuasannya.Ya setengah kepuasan tumpah pada padang Surya Kencana . Sementara aku memuaskan diriku dengan melihat gembira mereka yang teramat sangat.

Surya Kencana. Bagiku ia seperti penghela nafas panjang. Bertemu dengannya membuat semangatku kembaIMG_0865li ke titik semula. takjub, indah, puas, dingin, sekaligus melihat wajah-wajah ceria yang datang seketika.

Perjalanan belum lagi berakhir. Tetapi setidaknya penghela napas panjang itu sudah cukup membuatku kembali siap melangkahkan kaki yang semakin susah ku atur. Aku pendaki bermodal keyakinan bahwa setiap perjalanan akan selalu ada ujung. Mengutip petuah kawan lamaku “Surga itu diketinggian, bahkan sampai habis kesabaranmu, iman yang meneguhkan langkahmu.”

Ah, dia dan mereka mempunyai asumsi masing-masing tentang perjalanan ini. Aku pun begitu dan itulah indahnya sebuah perjalanan. Tapak-tapak jejak yang pernah dilalui, langkah-langkah gontai, peluh yang tak pernah mengucur karena dingin telah menutup pori-pori, namun ada jutaan rasa yang berbeda pada setiap batok kepala manusia pada situasi seperti itu. Aku? aku tidak tahu apa isi kepala dia dan mereka.

Malam itu dua tenda telah berhasil kudirikan beserta dia dan mereka. Sempat terbersit khawatir karena bagiku tenda mereka terlalu tipis dan mudah untuk dihancurkan angin lembah Surya Kencana. Kekhawatiranku bertambah ketika dia seperti hilang dibawa halimun yang menebal di lembah Surya Kencana. Untunglah, angin telah membawanya kembali pada dua tenda dengan beberapa botol air gunung yang langsung bisa diminum. Tenang sudah, setenang angin lembah yang mulai menghilang berganti dengan dingin yang menusuk pada jantung (Salah satu dari mereka berkata begitu).

1Dingin itu seperti tak pernah mau bersahabat denganku. Tenda dengan parasut tebal, sleeping bag, jaket yang tetap kupakai, sarung tangan tebal, kupluk hitam kecintaanku, seperti tak mampu mengalahkan kepongahan dingin. Ia seperti berkata kepadaku “Ku sambut semangatmu dengan dingin yang siap menembus seluruh sendi-sendi terdalam.”

Diam, aku diam sediam dingin yang menemaniku di pagi itu. Ku pandang seluruh tenda di sekeliling padang Surya Kencana. Hampir semuanya tersenyap memeluk dingin. Sepertiga malam, waktunya untuk menyiapkan perjalanan terkahir, menghabiskan sisa-sisa tenaga yang ada. Aku khawatir dia dan mereka tak bertemu dengan pendar cahaya matahari pagi. Bukankah ini yang membuat para pendaki selalu ingin kembali menapaki jejalan yang terjal? Ya, untuk bertemu dan menyapa sang surya pada ketinggian, menikmati pemandangan alam yang maha.

Aku tahu, lelah telah merenggut hampir seluruh badan pada dia dan mereka. Namun, kupastikan mereka harus melihat semuanya, harus ku pastikan agar dia dan mereka merasakan kenapa para pendaki selalu ingin kembali bertemu dengan perjalanan-perjalanan yang kata salah satu dari mereka “mau ngapain sih naik-naik ke gunung?” Aku ingin memastikan bahwa akan ada masa dimana mereka tidak akan pernah kecewa karena telah mengambil keputusan mendaki ke Gunung ini.

Tepat pukul lima pagi, aku, dia dan mereka berjalan menuju puncak tertinggi di wilayah itu. Mencari cara agar bisa semuanya sampai pada waktu yang tepat bagiku cukup sulit. Aku biarkan mereka berjalan di depanku agar mereka mendapatkan apa yang ingin ku sampaikan pada mereka melalui puncak tertinggi di wilayaIMG_0948h itu. Tak akan aku biarkan langkah-langkahku mendahului mereka. Bagiku langkah terakhir haruslah langkahku. Karena ketika hanya langkahku yang terkahir yang aku jejakan diantara dia dan mereka, maka saat itu pula lah aku menang.

Hilang, hilang semua rasa lelah, rasa penantian yang seperti tak kunjung datang. Lelah, telah minggat ketika aku melihat dia dan mereka mengekspresikan kegembiraan yang tiada pada puncak, pada gunung Pangrango yang membentang, pada gunung Salak yang juga menghiasi langit-langit Gede, pada lembah curam yang melengkapi keindahaan pagi itu. Ya, aku menang. Ku perintahkan badanku untuk duduk sambil bersandar pada pohon-pohon perdu. Ku resapi kemenangan itu sambil membiarkan rasa lelah menghilang. Ah, ini perjalanan terindah dari seluruh pendakian yang pernah aku daki. Aku, dia dan mereka, semenjak perjalanan itu menjadi seperti keluarga yang indah. Ada semacam ikatan ilusi yang menyebabkanku cinta pada mereka karena-Nya.

****

Bukan tentang indahnya pemandangan Gunung Gede, bukan pula tentang Sunrise di pagi hari yang tidak sempat ku kejar pagi hari itu… Tapi tentang memberikan perjalanan terbaik untuk Sahabat-sahabat tercintaku.

IMG_0959

 

IMG_1009

IMG_0920

IMG_0941

IMG_1019

 

DSC08338

 

 

 

 

 

 

Advertisements

~ by inspirasitendi on September 20, 2014.

6 Responses to “Tapak-Tapak Kaki Gunung Gede”

  1. terharuuuu….. makasih ya pak komandan, sudah bersabar membersamai perjalanan kami. smg Allah membalas kebaikanmu dg kebaikan berlipat untukmu dan keluargamu 🙂

  2. […] terima kasih untuk titien, tendi, rima, mba di, dan […]

  3. MasyaAllah, sangat menginspirasi mas. Jadi pengen juga naik gunung dan belajar banyak di sana 🙂

  4. Jadi pengen ikutan naik gunung. Padahal naik bukit pun sepertinya belum pernah. hi…hi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: